Belajar Sejarah di Museum Pergerakan Wanita

Perjuangan bagi wanita untuk memperoleh kesetaraan gender tidak pernah berhenti. Wanita pun memiliki peranan penting dalam perjuangan memperoleh kemerdekaan. Sebagai bentuk upaya mengenang dan menghargai perjuangan para wanita Indonesia tersebut pada 22 Desember selalu diperingati sebagai Hari Ibu. Tetapi tahukah Anda bagaimana sejarah penetapan Hari Ibu tersebut? tahukah Anda jika peringatan Hari Ibu tersebut diawali sebuah peristiwa penting yang ada di Jogja? Tepatnya pada 22 Desember 1928 yaitu Konggres Perempuan Indonesia yang dihadiri 600 perempuan dari berbagai usia dan latar belakang pendidikan. Peristiwa inilah yang nantinya melatarbelakangi adanya Hari Ibu. Museum Pergerakan Wanita adalah tempat untuk mengenang semua itu.

 

Sekilas Museum Pergerakan Wanita

 

Museum Pergerakan Wanita berada di Kompleks Mandala Bhakti Wanitatama tepatnya di Jalan Laksda Adisutjipto No. 88 Jogja. Museum Pergerakan Wanita Indonesia merupakan sarana untuk mengenang perjuangan para wanita Indonesia dari beberapa kurun waktu tertentu. Sehingga ketika mengunjungi museum ini Anda akan melihat beberapa koleksi realia maupun ilustrasi foto yang memperlihatkan bagaimana peranan para wanita pada masa ke masa.

 

Karena koleksi museum yang ada dikelompokkan pada periode yang berbeda. Diantaranya adalah periode pergerakan wanita pada masa penjajahan, pergerakan wanita pada masa perang kemerdekaan, pergerakan wanita pada masa demokrasi liberal, pergerakan wanita pada masa demokrasi terpimpin, pergerakan wanita pada masa orde baru dan pergerakan wanita pada masa reformasi.

 

Sejarah Berdirinya

 

Sejarah berdirinya museum Pergerakan Wanita jogja diprakarsai Ibu Sri Mangunsarkoro pada Kongres Wanita Indonesia di Bandung pada 1952. Saat itu Ibu Sri Mangunsarkoro mengusulkan monumen tidak berwujud tugu melainkan gedung sehingga bisa digunakan untuk aktifitas sehari-hari sebagai wujud penghargaan sekaligus upaya untuk menikngkatkan peran para wanita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Usulan tersebut disetujui dan menjadi keputusan kongres serta memperoleh persetujuan penasehat Yayasan Hari Ibu, Sultan Hamengkubuwono IX. Pembangunan Gedung Museum Pergerakan Wanita Indonesia Mandala Bhakti Wanitatama ini diketuai Ibu Sri Mangunsarkoro. Peletakan batu pertama pada 22 Desember 1953. Peresmian Gedung Monumen Wanita Indonesia pada 22 Desember 1983 oleh Presiden Soeharto.

 

Sejarah Hari Ibu

 

Jika Monumen Pahlawan Pancasila merupakan tempat untuk mengenang dua perwira Angkatan Darat yaitu Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Soegiyono dalam peristiwa G30S/PKI maka museum pergerakan wanita ini merupakan pengingat dimana awal mula Hari Ibu ditetapkan. Saat kongres pertama dilakukan yaitu pada 22 Desember 1928, hampir seluruh kongres membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan perempuan.

 

Dimana pada masa itu perempuan selalu dianggap rendah dan tidak memperoleh prioritas dalam pendidikan karena dianggap hanya berakhir di dapur saja. Saat itulah peserta kongres banyak menyampaikan pendapatnya termasuk upaya untuk pembangunan sekolah. Singkat kata, pada peringatan kongres ke-25 yaitu pada 22 Desember 1953 Presiden Sukarno menetapkan setiap 22 Desember sebagai Hari Ibu berdasarkan Dekrit Presiden RI No. 316 Tahun 1953.

 

Nah, Gedung Mandala Bhakti Wanitata inilah perwujudan keinginan para wanita Indonesia yaitu pendirian sebuah monumen yang memberi tanda adanya kesatuan langkah ataupun gerak para wanita Indonesia dalam sejarah bangsa Indonesia.

 

Dibangun Yayasan Hari Ibu. Sebagaimana Monumen Jogja Kembali dimana ketika mengunjunginya maka bisa melihat bagaimana proses perjuangan pada peristiwa 6 Jam di Jogja maka pada museum pergerakan ini pun bisa melihat bagaimana aktifitas para wanita Indonesia dari waktu ke waktu.

 

Isi Museum Pergerakan Wanita

 

Saat mengunjungi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Anda bisa melihat berbagai bentuk pesawat. Sedangkan di museum ini Anda bisa melihat berbagai koleksi saksi para wanita Indonesia dari masa ke masa. Misalnya mesin ketik tua Remington Portable model 5. Mesin ini pernah digunakan Ibu Sri Mangunsarkoro pada saat menjadi Ketua Panitia Peringatan Seperempat Abad Kongres Perempuan Indonesia.

 

Ada juga mesin jahit kuno yang digunakan dalam kegiatan Kursus Wanita Pembangunan Desa pada 1956, 1958 dan 1959. Ada pula ruang yang memamerkan seragam organisasi wanita dari masa ke masa. Kemudian cindera mata dari Pimpinan Wanita San Yuan (Puerto Rico) berupa kunci emas untuk Ibu Sri Mangunsarkoro. Setidaknya terdapat 700 koleksi di dalamnya yang berkaitan dengan pergerakan wanita di Indonesia. Selain itu terdapat sekitar 2000 buku di perpustakaan yang juga bagian dari Museum Pergerakan Wanita ini yang pantang dilewatkan.