Kraton Kerto, Jejak Sejarah yang Ikut Terkubur Dalam Modernitas

Jogja memang kaya dengan sejarah, hal itu dapat dibuktikan banyaknya situs maupun candi yang menceritakan kisah pada jaman kerajaan. Salah satu diantaranya adalah kejayaan Kerajaan Mataram Islam. Beberapa peninggalannya pun masih bisa dinikmati hingga saat ini seperti Masjid Agung Kotagede dan Alun- alun. Nah, masih ada satu lagi peninggalan kerajaan ini yang tersimpan di daerah Bantul yaitu Kraton Kerto.

 

Lokasi Kraton Kerto

 

Keberadaan Kraton Kerto tepatnya ada di Dusun Kerto, Pleret, Bantul, Jogja. Dari pusat kota Jogja jaraknya sekitar 12,6km dan dapat ditempuh dengan waktu selama 38 menit. Rute yang dapat dipilih dari pusat kota Jogja adalah melewati Jalan Imogiri Timur. Bisa juga pengunjung melewati Jalan Imogiri Barat atau Jalan Nasional III.

 

Akses jalan menuju lokasi sudah bagus namun hanya dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi. Kendaraan umum belum menjangkau daerah ini. Bila pengunjung mengalami kesulitan menemukan lokasi maka dapat mengandalkan bantuan Google Maps ataupun bertanya kepada warga sekitar bila sudah tiba di Kecamatan Pleret.

 

Peninggalan Kerajaan

 

Keraton Pleret dan Kerto adalah merupakan salah satu bukti keberadaan dan kejayaan Kerajaan Mataram Islam pada masa itu. Dua keraton ini pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram Islam di abad 17an. Pada masa kepemimpinan Sultan Agung atau lebih dikenal dengan Sultan Amangkurat I terjadi pemindahan pusat pemerintahan dari Kerto ke Pleret. Hal tersebut terjadi pada masa perlawanan terhadap Belanda.

 

Pada masanya kedua keraton merupakan symbol kebesaaran Kerajaan Mataram Islam. Dua keraton ini dibangun dengan segala kelengkapan seperti pembangunan Masjid Agung, alun- alun dan beteng yang ditemukan di sekitar situs keraton.

 

Sayangnya, penggalian situs kerajaan ini terhalang beberapa masalah seperti status kepemilikan tanah yang diakui sebagai milik warga setempat. Sehingga beberapa penelitian mengenai keraton ini sulit untuk dikembangkan. Bahkan terkadang penggalian yang sudah dilakukan harus ditutup kembali karena alasan legalitas hak milik tanah.

 

Keberadaan Keraton Kerto

 

Sekarang hal yang dapat dilihat bila mengunjungi peninggalan Kerajaan Mataram Islam ini hanyalah sebuah batu andesit besar sebagai umpak atau landasan pilar utama pada bangunan. Bentuknya bernilai seni karena batu tersebut tak hanya berbentuk kotak biasa namun juga dilengkapi dengan lekukan khas keraton pada jaman dahulu. Pada bagian atas terdapat lubang untuk tiang, seingkali terdapat bunga setaman didalamnya.

 

Suasana sekitar batuan tersebut sungguh tak terawat. Batu tersebut pun sudah berlumut dan dibiarkan pada area terbuka. Di sekitar area situs merupakan kawasan perumahan yang sudah padat dengan penduduk.

 

Padahal bila para peneliti berhasil mengungkap secara keseluruhan mengenai Kraton Kerto, akan terdapat pengembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Beberapa sumber didapat dari surat keraton dan naskah kuno meskipun tak dijelaskan secara rinci.

 

Salah satu penemuan yang sempat terkuak adalah sistem pengairan berupa saluran air degan sistem saringan berlapis. Hal ini merupakan salah satu hasil teknologi yang baik untuk diketahui dan dikembangkan di Indonesia.

 

Tanah Milik Warga

 

Selain keadaan situs keraton yang tak terawat, pengembangan penelitian menjadi terbatas karena adanya kepemilikan lahan oleh penduduk. Penduduk sekitar sebagian besar bermata pencaharian sebagai pembuat batu bata. Dimana mereka seringkali menggali tanah untuk dijadikan bahan pembuatan batu bata. Sayangnya dalam penggalian ini sering mengenai area peninggalan kerajaan tersebut sehingga benda- benda bersejarah yang bernilai itu pun rusak.

 

Dalam sejarahnya memang pembuatan batu- bata ini merupakan turun- temurun diwariskan sejak jaman Mataram Islam. Pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat I beliau memerintahkan masyaraktnya untuk membuat sebanyak- banyaknya batu bata untuk membangun istana di wilayah Pleret. Sejak itulah Pleret dikenal dengan pembuat batu bata.

 

Harapnnya kedepan pemerintah lebih serius dalam mengeksplorasi situs ini agar bukti sejarah tersebut dapat terungkap dengan jelas dan menjadi kenang- kenangan bagi Indonesia dalam bidang warisan budaya. Tentu akan sayang sekali bila kita kehilangan jejak sejarah yang pernah terjadi di Indonesia.

 

Sebelum ke Batu Songkamal dan Watu Wedhok, bila ada waktu senggang bolehlah mampir sebentar ke Kraton Kerto.