Mengunjungi Salah Satu Pusaka Pakualaman di Pesanggrahan Glagah Kulon Progo

Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa tempat ini memiliki sejarah yang berhubungan dengan keberadaan pemerintahan Kadipaten pada jaman dahulu. Kulon Progo memang pada jaman dahulu termasuk dalam wilayah kekuasaan Puro Paku Alam. Salah satu bukti sejarahnya adalah di tempat ini yaitu Pesanggrahan Glagah.

 

Lokasi Pesanggrahan Glagah

 

Bila mengunjungi Pantai Glagah, biasanya wisatawan akan melewati Wates menuju Purworejo.  Pada rute itu terdapat Desa Demen yang akan menuju ke Pelabuhan Tanjung Adikarto.   Pesanggrahan ini berada di jalur tersebut dengan berbelok ke arah barat. Akses menuju lokasi sudah baik, namun hanya dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi atau sewa.

 

Sejarah Pesanggrahan

 

Di Kulon Progo masih terdapat peninggalan-peninggalan yang merupakan jejak keberadaan pemerintahan Paku Alam. Seperti tembok besar pengasih yang membatasi wilayah perumahan warga dengan kantor kecamatan Adikarta, Pesanggrahan Glagah ini pun memiliki sejarah tentang kejayaan masa itu.

 

Pada jaman dahulu ketika kala itu daerah ini bernama Adikarta, Sri Paku Alam V sedang mengusahakan daerah ini yang dahulunya rawa diubah menjadi lahan pertanian. Beliau memimpin pembuatan saluran airdengan muara di laut selatan. Tempat ini digunakan untuk tempat peristirahatan beliau selama masa pengolahan lahan tersebut yang kemudian disebut dengan Pesanggrahan Glagah.

 

Luas wilayah pesanggrahan ini mencapai satu hectare. Dengan berjalannya waktu pesanggrahan ini sering digunakan oleh keluarga Puro Pakualaman. Biasanya para kerabat singgah ke tempat ini bila sedang wisata ke pantai maupun berburu di hutan. Hingga kini pun pada tiap tahunnya masih terselenggara beberapa kegiatan yang berkaitan dengan ritual tradisi atau upacara adat seperti labuhan 10 suro.

 

Suasana Pesanggrahan

 

Melihat bentuk arsitekturnya, bangunan pesanggrahan ini memiliki gaya tipe colonial Belanda.  Namun bangunan yang sekarang ini sudah mengalami renovasi di tahun 1957 pada masa pemerintahan Paku Alam VI dan VII. Sebelumnya pesanggrahan ini memiliki arsitektur bergaya Jawa berupa rumah joglo.

 

Hingga kini bangunan bergaya Eropa tersebut masih terawat dengan baik. Dengan cat dominan putih dan rapi. Pada halamannya pun rapi dengan susunan paving block. Di area ini terdapat dua bangunan utama, yaitu bangunan utama pesanggrahan dan aula.

 

Sebenarnya Pesanggrahan Puro Pakualaman ada dua yaitu Pesanggrahan Hargopeni yang terletak di Kaliurang dan Pesanggrahan Glagah yang berada di dekat pantai. Kedua bangunan merupakan artefak bersejarah yang harus dilestarikan. Pasenggrahan ini pun masih sering mendapat tamu kunjungan dari masyarakat. Mereka pada umumnya selain menambah wawasan juga ingin melestarikan cagar budaya agar tidak terlupakan.

 

Upacara Labuhan

 

Di Pasenggrahan Glagah pada tiap tahunnya masih ada kegiatan yang berhubungan dengan tradisi yaitu upacara Labuhan. Biasanya upacara ini dilaksanakan pada penanggalan jawa sasi Suro. Upacara yang dilakukan adalah masyarakat maupun abdi dalem menyiapkan segala perlengkapan sesaji atau ubo rampe dengan berkumpul di aula untuk berdoa bersama.  Setelah doa bersama kemudian ubo rampe tersebut diarak oleh bergodo dan sentono Paku Alaman dari Pesanggrahan menuju ke laut selatan untuk dilarung.  Jarak yang ditempuh untuk membawa sesaji tersebut kurang lebih sejauh 3,5 km.

 

Makam Girigondo

 

Makam Girigondo tak bisa dipisahkan begitu saja dengan keberadaan Pesanggrahan Glagah. Pada masa pemerintahan Paku Alam V, beliau juga membangun pesanggrahan yang berada di Komplek Pemakaman Girigondo, masih di area Kulon Progo juga.  Beliau membangun tempat tersebut untuk tempat istirahat bagi keluarga yang akan memakamkan kerabat keraton di makam tersebut.

 

Demikian pula dengan makam Girigondo yang juga dibangun oleh Paku Alam V.  Beliau berinisiatif membangun area pemakaman untuk kerabat karena makam raja yang berada di Kotagede sudah penuh. Pada jaman dahulu Makam Girigondo dikenal dengan sebutan Makam Keling, dimana makam tersebut dibangun dengan sangat indah dan berbau wangi.

 

Oleh sebab itu, pengunjung yang datang berkunjung ke Pesanggrahan Glagah biasanya juga meneruskan perjalanan untuk ziarah ke Makam Girigondo. Karena setelahnya di tempat itulah Paku Alam V dan seterusnya dimakamkan. Bahkan pemakaman ini pun juga ramai dikunjungi wisatawan yang ingin berwisata religi.